Marah Mengakibatkan Kesalahan

Di sebuah kota ada seorang kaya yang menagih utang sebesar US$2.5 kepada seorang miskin. Ketika orang miskin ini tidak dapat membayarnya karena tidak memiliki uang sama sekali, ia memutuskan untuk menuntut orang miskin tadi. Hal ini dilakukan karena ia jengkel dan marah karena orang miskin tadi dianggap tidak bertanggung jawab. Untuk itu, ia segera menghubungi ahli hukum yang masih muda bernama Peter. Peter, yang pada mulanya ragu-ragu untuk menangani masalah ini akhirnya ia setuju, jika orang kaya ini mau memberinya uang muka US$10. Orang kaya ini segera membayar US$10 karena ia ingin segera menghukum kliennya.


Setelah menerima uang, peter menemui orang miskin tadi dan mengatakan bahwa ia akan membantu orang miskin ini untuk melunasi hutangnya kepada orang kaya. Peter memberikan US$5, US$2.5 untuk melunasi hutangnya dan US$2.5 untuk membeli makanan. Dengan melakukan hal ini, semuaorang berbahagia. Peter mendapat US$5, orang miskin itu mendapat US$2.5 dan keinginan orang kaya untu mendapatkan uang sebesar US$2.5 terwujud. Orang kaya ini dengan bodoh telah membayar 3 kali lebih besar dari piutang yang sebenarnya, hanya karna ingin memaksakan keinginannya.

Kisah di atas menunjukan bahwa amarah sering kali membuat seseorang mengalami kerugian yang lebih besar dari kerugian yang menyebabkan dia marah. Ketika dia melepaskan utang tersebut, dia hanya kehilangan US$2.5. Namun, amarahnya menyebabkan dia kehilangan uang US$7.5. Selain itu, dia juga kehilangan banyak waktu dan menyebabkan tidak bisa hidup tenang. Ketika dia melepaskan haknya, dia akan punya banyak waktu yang kemungkinan besar akan membuat dia bisa melakukan sesuatu yang bisa menghasilkan lebih besar daripada US$2.5.

Masalahnya, kita jarang bisa berpikir seperti ini ketika amarah menguasai hidup kita. Seringkali, dalam kondisi dirugikan kita memilih untuk berpikir “Kalah-Kalah”. Tidak apa-apa saya kalah, asalkan dia juga kalah.

Memang, ketika kita merasa hak kita dilanggar kita tidak bisa selalu diam saja. Kita harus berbicara dan menjelaskan kondisi yang sebenarnya. Namun, kita tidak boleh memaksakan diri. Jangan sampai kita menjadi marah ketika mempertahankan hak sehingga malah mendapatkan kerugian yang lebih besar dari hak yang kita tuntut.

MARAH YANG BAIK ADALAH MARAH YANG BISA DIKENDALIKAN DAN BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar