Iri Hati

Di suatu desa, hiduplah dua orang penjual buah yang mempunyai toko saling berhadapan. Mereka bernama Bowo dan Karjo. Keduanya adalah seorang Kristen. Bowo menjual buah papaya di tokonya, sedangkan Karjo menjual buah pisang. Setiap hari ada banyak pembeli buah baik di toko Bowo maupun di toko Karjo. Hampir setiap hari dua penjual buah ini saling bersaing, padahal mereka menjual buah dengan jenis yang berbeda. Karena keadaan itulah akhirnya mereka saling membenci dan iri hati. Bila toko Bowo lebih ramai, maka Bowo akan mengejek Karjo karena toko Karjo lebih sepi. Begitu pula sebaliknya.

Suatu malam Bowo bermimpi bertemu dengan seorang malaikat, dan malaikat itu berkata, “Aku akan memberikan apa saja yang engkau minta. Tetapi untuk setiap permintaanmu Karjo akan menerima dua kalinya.” Melihat Bowo bingung, malaikat itu berkata, “Misalnya engkau minta satu sepeda motor, maka Karjo akan mendapat dua sepeda motor. Jika engkau minta satu rumah baru, maka Karjo akan mendapatkan dua rumah baru. Jika engkau meminta setiap hari mendapatkan keuntungan dua kali lipat, maka Karjo akan mendapatkan keuntungan empat kali lipat setiap harinya. Bagaimana? Sekarang apa permintaanmu kepadaku? Tanya malaikat kepada Bowo. Mendengar pertanyaan dari malaikat itu, Bowo terdiam dan menundukan kepalanya. Beberapa saat setelah itu, Bowo menatap malaikat yang masih berdiri di depannya dengan penuh keyakinan dan berkata, “Baiklah…, aku cuma minta satu hal saja, dan aku minta cepat laksanakan permintaanku itu!” kata Bowo dengan semangat. “Apa permintaanmu?” tanya malaikat kepada Bowo. Dengan suara mantap Bowo berkata kepada malaikat itu, “Butakan satu mataku!” Maksudnya supaya Karjo mendapat dua kali lipat, yaitu kedua mata Karjo buta.

Tahukah Anda, bahwa orang yang iri hati memang tidak pernah senang melihat keberhasilan dan kebahagiaan orang lain. Iri hati merupakan racun yang sangat mematikan. Karena seseorang yang mengalami iri hati akan rela menderita, asalkan orang yang membuatnya iri hati itu jauh lebih menderita daripada dirinya. Ini adalah pola pemikiran Kalah-Lebih Kalah, “Saya lebih baik menderita kerugian asalkan pesaing saya mendapatkan kerugian yang lebih banyak!” Mereka lebih suka mendapatkan kerugian lebih sedikit dari pesaingnya daripada mendapatkan berkat tetapi pesaingnya mendapat berkat lebih banyak. Masalahnya, banyak orang Kristen yang juga memiliki pendapat seperti ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar