Ada banyak yang melayani, tapi hanya sedikit yang motivasinya benar. Itu
yang dikatakan oleh salah seorang teman yang aktif dalam pelayanan di
gerejanya. Menurutnya, ada orang-orang yang memang sepertinya melayani,
tetapi bukan didasarkan untuk menyenangkan hati Tuhan melainkan untuk
kepentingan-kepentingan pribadi. Menurutnya, orang-orang seperti ini
biasanya akan ketahuan lewat sikap mereka dalam kehidupan sehari-hari.
Selalu menyombongkan diri baik secara langsung atau lewat berbagai
jejaring sosial, atau sikap lainnya seperti malas, angkuh, sering tidak
tepat waktu dan lain sebagainya.
Adalah sangat baik apabila kita
bersedia untuk meluangkan sebagian dari waktu kita untuk terlibat
langsung dalam pelayanan lewat bidang apa saja sesuai panggilan kita
masing-masing, tapi adalah penting pula untuk memperhatikan baik-baik
motivasi yang benar dalam melayani.
Yesus mengatakan: "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit."
(Matius 9:37a). Jika pekerja saja dikatakan sedikit, jumlahnya
sepertinya semakin sedikit jika kita menambahkan kata "yang motivasinya
benar" di depan kata "pekerja". Seperti apa sebenarnya motivasi yang
harus dimiliki oleh para pengerja atau pelayan Tuhan? Bagaimana
seharusnya agar kita tidak sampai mencuri kemuliaan yang seharusnya
menjadi milik Tuhan atau membuat Tuhan kecewa atau bahkan marah lewat
sikap yang salah dari kita? Dalam hal ini kita bisa belajar dari sosok
Paulus.
Sebagai seorang hamba Tuhan, Paulus menunjukkan sikapnya yang teguh akan
ketaatan. Dia berani pergi menyebarkan Injil kemana-mana, bahkan hingga
mencapai Asia kecil. Ia sukses mendirikan banyak jemaat dimanapun ia
mendarat. Terkenalkah Paulus? Tentu saja Paulus terkenal dikalangan
orang-orang percaya pada masa itu. Tetapi disisi lain kita harus pula
melihat betapa seringnya usaha dan kerja kerasnya tidak dihargai
sepantasnya. Dia bahkan harus rela mengalami banyak penderitaan dan
berbagai bentuk siksaan demi menjalankan misinya. Meski demikian, kita
mengetahui bahwa Paulus tidak berkecil hati, kecewa atau sakit hati
kepada Tuhan. Sebaliknya ia malah tidak pernah menuntut apa-apa yang
bisa memberinya sedikit kemudahan dalam menunaikan tugas pelayanannya.
Jika memperhatikan tingkat kesulitan tinggi yang ia harus hadapi lengkap
dengan segala resikonya, tentu rasanya wajar jika Paulus tidak lagi
perlu bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Logikanya ia lebih baik fokus
saja mewartakan kabar gembira. Tapi Paulus ternyata tidak menuntut itu
sama sekali. Perhatikanlah apa yang ia katakan. "Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapapun juga."
(Kisah Para Rasul 20:33). Paulus tidak menuntut apapun dari jemaat
maupun penatua/gembala atau hamba-hamba Tuhan lainnya. Padahal kurang
apa lagi Paulus pada saat itu dimata orang-orang percaya? Itulah sikap
Paulus. Ia mengatakan "Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku
sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan
kawan-kawan seperjalananku." (ay 34). Paulus sama sekali tidak
mencari kesempatan untuk meraup keuntungan untuk diri sendiri meski ia
sudah bersusah payah untuk melayani begitu banyak orang. Ia memilih
untuk terus bekerja ditengah kesibukannya melayani, bukan hanya untuk
mencukupi kebutuhannya sendiri bersama rekan-rekan sekerjanya. tetapi ia
pun bekerja agar bisa membantu orang-orang yang membutuhkan. "Dalam
segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja
demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah..." (ay 35). Apa
pekerjaan Paulus? Dalam Kisah Para Rasul 18:3 kita bisa tahu bahwa
Paulus bekerja sebagai tukang kemah. Paulus tahu bahwa semua yang ia
lakukan bukanlah untuk ketenaran, tetapi semata-mata untuk menyenangkan
Tuhan dengan membawa jiwa-jiwa untuk bertobat dan mendapat kesempatan
yang sama sepertinya untuk diselamatkan.
Kita bisa melihat pandangan Paulus yang mendasari keputusannya untuk tidak menuntut apa-apa dalam menjalankan panggilannya. "Aku
menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau
melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan
Allah." (1 Korintus 10:31). Ia berkata, apapun yang kita
lakukan, seharusnya itu diarahkan untuk memuliakan Tuhan dan bukan untuk
mencari popularitas atau keuntungan pribadi. Mengapa demikian? "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!"
(Roma 11:36). Bukankah segala sesuatu yang kita miliki semuanya berasal
dari Tuhan? Tanpa Tuhan kita bukanlah apa-apa dan tidak ada apa-apanya.
Karena itulah sudah sepantasnya kita memuliakan Tuhan lewat segala
talenta atau kemampuan yang telah diberikan kepada kita.
Lewat sikap Paulus kita bisa melihat bagaimana sikap kita yang
seharusnya dalam melayani Tuhan. Jangan sampai kita mencuri hak Tuhan
dengan memanfaatkan kesempatan dalam pelayanan untuk memperkaya diri
sendiri atau demi popularitas kita. Jangan pula kita lupa untuk
memuliakan Tuhan dengan terus bersikap asal-asalan, malas atau tidak
serius dalam melakukannya. Motivasi Paulus dalam melayani adalah murni,
dan ini adalah keteladanan yang sangat baik untuk kita camkan baik-baik.
Tidak peduli sehebat apapun kemampuan kita, semua itu tidak ada gunanya
tanpa Tuhan. Dari Paulus kita bisa belajar bahwa kemurnian dan
ketulusan merupakan kunci yang sangat penting dalam mengabdi kepada
Tuhan. Mari kita periksa diri kita, apa yang menjadi dasar atau motivasi
kita dalam melayani. Apakah semata-mata untuk memuliakan Tuhan atau
kita masih punya banyak agenda yang mengarah kepada keuntungan diri
sendiri. Arahkanlah fokus dalam melayani ke arah yang tepat, ikuti
keteladanan Paulus agar semua pekerjaan yang kita lakukan berkenan di
hadapan Tuhan dan bisa berbuah lebat membawa kemuliaan bagi Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar