Jamrano lahir dengan ayah yang tidak mempunyai
kasih. Ia selalu mendapat perlakuan yang kasar dari ayahnya. Bila ayahnya
sedang ada masalah selalu menumpahkannya di rumah. Anak-anak adalah sasaran utama.
Rano pun menjadi sasaran empuk untuk dipukul oleh sang ayah. Karena perlakuan
ayahnya yang kasar, maka Rano tumbuh menjadi anak yang kasar dan keras. Rano
ingin sekali memiliki ayah yang dapat dijadikan panutan dan teman bercerita.
Tetapi kenyataannya ia tidak mendapatkannya. Saat itu Rano mempunyai satu
keinginan. Suatu saat nanti bila ia sudah besar dan kuat, ia akan membunuh
ayahnya. Hal itu ia tanamkan sejak ia kecil.
Dari saat duduk di bangku SMP, Rano sudah mengenal dan memakai narkoba dan minuman
keras. Hal itu berlanjut sampai ia masuk ke STM. Kelakuannya menjadi-jadi. Ia
menjadi anak yang suka memberontak. Ia bahkan sering memimpin teman-temannya
untuk berkelahi dengan sekolah lain. Bahkan satu hari ia dan teman-temannya
tawuran sampai tiga kali. Ia lakukan itu semua karena ingin melampiaskan
amarahnya terhadap ayahnya. Dan ia merasa bangga melakukan itu semua
Pada suatu hari ia berkelahi dengan sekolah lain dan ia melukai anak dari
jawara kampung lain. Saat itu Rano diincar untuk dibunuh. Pada saat ia naik
bus, warga langsung menyerbu bus itu dan mengancam ingin membunuh Rano, tetapi
karena Rano juga mengancam supir untuk tetap jalan, maka ia lolos dari maut.
Lolos dari kematian membuat Rano berpikir tentang hidupnya. ia merasa hidupnya
tidak ada artinya. Ia berpikir hanya bila ia tidak mati muda, maka ia akan
mendekam di penjara. Saat itu merasa tidak ada jalan lagi untuk meraih masa
depannya. Ia sempat berpikir untuk bunuh diri. Tetapi ia kemudian berpikir
bahwa bunuh diri bukanlah cara yang baik, karena bila ia mati maka ia akan
masuk neraka. Pada saat itu juga ia merasa hidupnya ada di dalam sebuah lubang
yang dalam, kecil, bau dan gelap. Bila saja ada yang bisa mengeluarkannya dari
sana, ia akan ikut.
Ditengah kegundahannya, ia bertemu dengan kerabatnya dari luar kota. Kerabatnya
mengajak ia untuk datang ke persekutuan. Di persekutuan itu, Rano bertemu
dengan Tuhan. Ia merasa hancur hati saat itu. Ia mengingat semua dosa yang
sudah ia lakukan, semua itu sia-sia. Ia ingin mengampuni semua orang yang telah
melukai hatinya. Terutama papanya. Ia merasakan kedamaian dan kelegaan yang
belum pernah ia rasakan. Kasih Tuhan yang luar biasa telah menjamah dan
melembutkan hatinya.
Pertobatan telah merubah Rano menjadi lebih baik. Ia selalu berdoa untuk
ayahnya. Ia mempunyai kerinduan sebagaimana Tuhan telah melembutkan hatinya, ia
juga ingin ayahnya dilembutkan hatinya. Sampai pada suatu saat papanya
mengalami stroke. Pada momen itulah Rano memberanikan untuk meminta maaf pada
papanya. Ia mulai mengobrol dan akhirnya ia mengutarakan maksudnya untuk
meminta maaf. Papanya juga akhirnya terbuka dengan masa lalunya. Pada saat itu
Rano dan papanya menangis dan berpelukan. Itu adalah pelukan pertama mereka.
Akhirnya Rano berdoa untuk ayahnya dan pemulihan terjadi antara mereka. Luar
biasa, hubungan ayah anak yang rusak selama 10 tahun kini telah dipulihkan oleh
Tuhan. Walaupun pada akhirnya papanya menyerah dengan penyakitnya dan
meninggal, tetapi tidak ada lagi penyesalan dalam hati Rano. Waktu yang sempit
itu mereka gunakan sebaik-baiknya untuk saling menyayangi.
Setelah menerima Tuhan dalam hati, Rano merasa mempunyai masa depan lagi. Ia
ingin hidupnya dipakai Tuhan. Didalam Tuhan ada cahaya terang yang membuatnya
melihat dan ada pengharapan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar