Mazmur 103:13,14 Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu.
Ada dua atlit ikut kompetisi pada sebuah perlombaan. Tak seorangpun memenangkan pertandingan itu. Mereka hanya berada di tempat ketiga.
Setelah selesai perlombaan seseorang mendekati mereka. “Saya telah melihat kalian berdua,” dia berkata. Ketika dia memberikan namanya, kedua atlit itu mengenal dia sebagai salah satu pelatih terbaik di negara itu. “Meskipun kamu tidak memenangkan pertandingan, saya terkesan oleh kalian berdua, dan saya ingin melatih kalian,” dia mengatakan kepada mereka.
Atlit yang pertama senang. “Tuan, saya menerima tawarannya,” dia mengatakan. Atlit kedua menggelengkan kepala. “Nah, saya akan memenangkan pertandingan waktu mendatang, saya tidak membutuhkan bantuanmu.”
Setahun kemudian kedua atlit bertemu lagi dalam sebuah kompetisi. Atlit yang telah dilatih mendapat nomor satu. Dan atlit satunya yang menolak? Dia membawakan air dan handuk bagi atlit lain. Tanpa pelatihan yang benar, dia memaksakan diri terlalu keras dan ototnya terkilir sehingga dia tak dapat bertanding.
Kita memiliki pilihan yang sama seperti yang dilakukan oleh atlit-atlit itu. Kita bisa menerima tawaran TUHAN untuk melatih kita sehingga kita dapat memenangkan pertandingan kehidupan. Atau kita dapat menolak dan menyia-nyiakan kesempatan.
Apakah yang akan kamu lakukan hari ini?
Ada dua atlit ikut kompetisi pada sebuah perlombaan. Tak seorangpun memenangkan pertandingan itu. Mereka hanya berada di tempat ketiga.
Setelah selesai perlombaan seseorang mendekati mereka. “Saya telah melihat kalian berdua,” dia berkata. Ketika dia memberikan namanya, kedua atlit itu mengenal dia sebagai salah satu pelatih terbaik di negara itu. “Meskipun kamu tidak memenangkan pertandingan, saya terkesan oleh kalian berdua, dan saya ingin melatih kalian,” dia mengatakan kepada mereka.
Atlit yang pertama senang. “Tuan, saya menerima tawarannya,” dia mengatakan. Atlit kedua menggelengkan kepala. “Nah, saya akan memenangkan pertandingan waktu mendatang, saya tidak membutuhkan bantuanmu.”
Setahun kemudian kedua atlit bertemu lagi dalam sebuah kompetisi. Atlit yang telah dilatih mendapat nomor satu. Dan atlit satunya yang menolak? Dia membawakan air dan handuk bagi atlit lain. Tanpa pelatihan yang benar, dia memaksakan diri terlalu keras dan ototnya terkilir sehingga dia tak dapat bertanding.
Kita memiliki pilihan yang sama seperti yang dilakukan oleh atlit-atlit itu. Kita bisa menerima tawaran TUHAN untuk melatih kita sehingga kita dapat memenangkan pertandingan kehidupan. Atau kita dapat menolak dan menyia-nyiakan kesempatan.
Apakah yang akan kamu lakukan hari ini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar