Awalnya, tiang listrik menggunakan bahan kayu.dengan bahan ini, jaringan listrik yang terbentuk bisa dimanfaatkan oleh warga masyarakat dengan baik. Namun, ada satu pihak yang tidak terlalu suka dengan bahan dari tiang listrik ini yaitu, petugas keamanan lingkungan yang biasanya disebut dengan hansip (Pertahanan Sipil). Salah satu tugas dari Hansip ini adalah memberikan penanda waktu pada malam hari, sehingga dia perlu membawa alat untuk menjadi penanda waktu. Biasanya mereka membawa kentongan karena tiang kayu tidak mengeluarkan bunyi cukup keras sehinnga tidak bisa dipakai sebagai penanda waktu.
Ketika tiang listrik dari kayu mulai rusak karena kena hujan dan panas, mulailah digunakan bahan besi. Para Hansip sangat senang dengan perubahan ini karena tidak perlu lagi membawa kentongan. Mereka bisa menggunakan tiang listrik sebagai penanda karena bisa mengeluarkan bunyi yang cukup keras ketika dipukul.
Namun, keberadaan tiang listrik dari besi, mengundang kontroversi saat hujan deras dan ada kabel telanjang beraliran listrik nempel pada tiang listrik terbuat dari besi itu. Tiang listrik ini bisa membahayakan warga. Pihak PLN memikirkan kembali bahan yang cocok untuk dipakai sebagai tiang listrik.
Kayu adalah bahan yang aman tapi tidak tahan lama. Besi adalah bahan yang kuat dan tahan lama tetapi bisa mengakibatkan masyarakat tersengat listrik. Akhirnya, PLN memilih bahan beton. Perpaduan antara kekuatan besi dan keisolatoran kayu. Namun, cara memasangnya relative sulit jika dibandingkan dengan kayu dan besi. Untuk memasangnya diperlukan beberapa orang dan katrol sederhana. Masyarakat menyambut dengan antusias tiang ini karena kuat dan aman. Namun, ada satu pihak yang membenci tiang listrik dari beton ini, yaitu si Hansip karena harus kembali menenteng kentongan seperti jaman tiang kayu dulu.
Apapun yang dilakukan PLN, pasti tidak bisa menyenangkan semua pihak. Demikian dengan kehidupan kita. Dalam 2 Korintus 2:15-16 menyebutkan “Sebab bagi Allah kami adalah bau yang harum dari Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa. Bagi yang terakhir kami adalah bau kematian yang mematikan dan bagi yang pertama bau kehidupan yang menghidupkan. Tetapi siapakah yang sanggup menunaikan tugas yang demikian?” Ayat bacaan ini mengatakan bahwa kita bisa menjadi bau harum di tengah-tengah orang yang percaya kepada Yesus, tetapi bisa menjadi bau busuk di tengah-tengah orang yang belum diselamatkan. Oleh karena itu, jangan berusaha menyenangkan semua orang dengan melakukan apa saja demi menyenangkan mereka tapi tidak mengutamakan kebenaran. Berusahalah yang terbaik dan serahkan hasilnya pada Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar